BBM Naik lagi

BBM Naik1 (doc. inilah.com)

ORANG MISKIN DILARANG HIDUP

Di bulan kedua tahun 2012 ini, pemerintah lagi-lagi membuat kebijakan yang tidak populis, tidak pro rakyat dan cenderung memiskinkan rakyat yang senyatanya memang sudah miskin. Bulan-bulan sebelumnya, dengan lugas dan gamblang pemerintah mempertontonkan ketidak-seriusannya menanggani kasus-kasus korupsi yang merugikan negara hingga triliunan rupiah, pemerintah justru asyik mencari muka dengan lembaga-lembaga keuangan dunia demi menambah utang luar negeri yang hingga tahun 2011 mencapai USD 15,34 miliar atau setara Rp. 140 triliun.

Tanggal 22 februari, di awal tahun ini. Pemerintah melalui Kementerian ESDM dengan cengengesan mengumumkan kepada media akan mencabut subsidi atau dengan kata lain menaikkan harga BBM akibat melambungnya harga minyak mentah dunia. Sementara sebelumnya dalam pengantar sidang kabinet paripurna di istana, Presiden dengan gaya retorika yang gemulai menyampaikan bahwa “harga BBM mau tidak mau tentu mesti disesuaikan dengan kenaikan yang tepat.”

Jika alasan pemerintah menaikkan harga BBM karena kenaikan harga minyak mentah dunia yang mencapai USD 121 per barel sedangkan APBN hanya mengasumsikan USD 90 per barel, sehingga selisih kekurangan harus dicarikan jalan keluar. Jika secara matematis setiap kenaikan harga minyak mentah dunia sebesar USD. 1 per barel maka akan menambah beban subsidi BBM sebesarRp3,2 triliun. Jika diasumsikan rata-rata harga minyak mentah dunia sebesar USD 120 per barel maka akan dibutuhkan tambahan biaya subsidi sebesar Rp 96 triliun. Bukankan semua itu kesalahan dan kebodohan pemerintah termasuk wakil rakyat kita yang terhormat, tidakkah mereka yang katanya cerdas bisa mengkalkulasi asumsi kenaikan harga dan inflasi dunia? Bukankah kita tahu bahwa APBN kita ini ditetapkan terlebih dahulu baru kemudian dicari pos pembiayaannya? Kenapa asumsi minyak mentah dalam APBN tidak ditetapkan pada plafon tertinggi, kenapa mesti rakyat yang harus dipaksa menanggung derita atas kesalahan para pemimpin dan wakil rakyat terhormat?

Sementara rakyat semakin menderita, pemimpin negeri ini juga terus mengiba karena gajinya yang dianggap terlalu kecil dan tak naik-naik, para menterinya bermobil mewah mentereng, ruang rapat wakil rakyatnya mewah dan megah yang rasanya nyaman dipakai untuk tidur saat sidang soal rakyat, disisi lain pajak sebagai sumber pendapat negara [APBN] harus dikorup oleh agen-agen pemerintah dengan memberikan “jalan mudah” kepada perusahan-perusahaan besar untuk mengemplang pajak. Miris memang hidup di negeri ini?

Kendati kenaikan harga BBM masih per 1 april 2012, senyatanya kita sudah mendapati bukti bahwa kenaikan tersebut telah menimbulkan antrian panjang pada SPBU-SPBU di negeri ini. Tarif angkutann umum terpaksa harus naik, sementara di pasar harga cabe merah, cabe keriting, cabe kemas dan bahan kebutuhan pokok lainnya juga ikut terkerek naik akibat membengkaknya biaya distribusi, biaya produksi serta biaya upah buruh. Sementara para agen minyak sudah sedini mungkin menimbun guna mendapatkan keuntungan dari selisih harga setelah tanggal 1 april 2012 yang tinggal beberapa hari lagi.

Belum lagi selesai soal BBM, pemerintah sudah ancang-ancang untuk menaikkan harga tarif dasar listrik (TDL) dengan alasan kenaikan BBM tersebut. TDL rencanya akan dinaikkan sebesar 10%, dan tentu sudah dapat diprediksi bahwa biaya produksi juga akan butuh dan butuh lagi penyesuaian meminjam istilah presiden SBY.

Rencana kenaikan BBM atau dalam bahasa pemerintah pencabutan subsidi BBM pastinya akan sangat berdampak kepada realitas hidup masyarakat indonesia. Saya dengan sangat yakin dan percaya bahwa jumlah orang miskin di negeri ini akan semakin meluas, bukan hanya 13% atau 30% seperti yang diperdebatkan BPS dan NGO selama ini.

Logikanya, kenaikan biaya produksi, biaya distribusi dan transportasi serta meningkatnya upah buruh dan karyawan tentunya akan menaikkan harga barang-barang, hal ini pasti terjadi karena perusahaan tentunya tidak siap untuk mengalami kerugian.

Susah memang hidup di negeri ini, “Bisa Mati Kita” kata seorang ekonom sekaligus Ketua Apindo, Sofjan Wanandi. Di negeri yang kaya ini, memang segala hal dirasakan sangat sulit bagi kebanyakan orang indon yang miskin; banyak kebijakan yang sengaja dicipta untuk mempersulit hidup yang sudah sulit, sebut saja “orang miskin di larang sekolah”, “orang miskin dilarang sakit, dll”. Simpulan dari kebijakan-kebijakan pemerintah itu bisa saja ditafsir sebagai “orang miskin dilarang hidup di negeri ini” hehehe…

Ditengah kondisi negeri yang tak kunjung membaik ini, aparatur yang seharusnya berfikir untuk menjalankan tugas negara secara baik dan benar justru sibuk untuk memperkaya dirinya sendiri, petugas pajak yang seharusnya berfikir untuk mengumpukan uang pajak sebagai salah satu sumber penerimaan negara terbesar justru membantu koorporasi pengemplang pajak untuk membayar pajak secukupnya, aparat penegak hukum yang seharusnya mengurusi hukum malah berlomba-lomba menjadi artis tenar di layar televisi, penyidik KPK yang harusnya berani mengungkap kecurangan dan korupsi pejabat malah sibuk menjalin asmara dengan terduga korupsi, wakil-wakil rakyat yang terhormat juga tidak ingin ambil pusing karena sedang pusing mengurusi kerabat dan rekan serumahnya dalam partai yang terlibat kasus korupsi. Sudah rusak memang negeri ini. Rakyat hanya bisa berharap, masih ada pemimpin yang peduli dengan derita dan kesengsaraan yang mereka alami. Semoga masih ada yang peduli, setidaknya para mahasiswa yang masih idealis walaupun hanya beberapa yang tersisa.

Yang lainnya :

2 Responses to BBM Naik lagi

  1. Woah this weblog is magnificent i like studying your posts. Stay up the great paintings! You understand, many persons are hunting round for this info, you can aid them greatly.

    • Ilalang says:

      Thank you for your attention. we just give the info that is going on around us. thank you

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>